Lokasi : Desa Tebul Timur, Kecamatan Pengantenan, Kabupaten Pamekasan, Madura

Kelas sumber benih : TBT (Tegakan Benih Teridentifikasi)

Luas : 1,17 ha

Estimasi produksi benih : 0,3 kg/pohon atau 14.4 kg/sumber benih

Jumlah pohon : 48 batang

Pemilik : Ali Makki (PKSM Arek Lancor)

Kingdom
Divisi
Sub Divisi
Kelas
Ordo
Famili
Sub Famili
Genus
Spesies
Nama Lokal
: : : : : : : : : :Plantae
Spermatophyta
Angiospermae
Manoliopsida
Fabales
Fabaceae
Mimosoideae
Acacia
Acacia auriculiformis
Akasia, Akor
Origin (Asal)                                  :Acacia auriculiformis berasal asli dari Indonesia di bagian selatan Papua, serta sebarannya juga terdapat di Papua New Guinea dan bagian utara. Di Indonesia, pemuliaannya telah dilakukan sejak 1996 dengan penanaman uji keturunan generasi 1, dengan menyertakan berbagai sumber benih yang dikoleksi dari 12 asal benih (provenans) di sebaran alaminya di Papua New Guinea dan Queensland, Australia.
Sebaran:Distribusi alaminya dapat dijumpai di Papua, Sabana Papua Nugini, Australia utara dan pulau-pulau di selat Toress, di antara 9 o LU-16o LS dan 130-145o BT (Hai, 2009).
Perkembangbiakkan:Persentasi perkecambahan biji akan sempurna jika biji diperlakukan terlebih dahulu dengan cara menyiram dengan air mendidih dan didiamkan semalam sebelum ditabur keesok harinya. Penaburan sebaiknya dilakukan di pasir, agar memudahkan penanganan kecambah. Penggunaan pasir meningkatkan porositas (pori-pori) media sehingga menyediakan oksigen yang diperlukan untuk perkecambahan.
Persyaratan tumbuh        :Akasia cocok tumbuh di ketinggian 0 sampai 400 meter di atas permukaan laut, pada suhu hangat dengan curah hujan sangat rendah hingga 200 mm/tahun sampai tinggi, dan bisa tumbuh pada kondisi tanah dengan kisaran pH 4-9. (Pinyopusarerk, 1990). Akasia dapat tumbuh dengan baik pada kondisi tanah yang rusak, dengan kemampuannya memfiksasi nitrogen bebas. Akasia juga cukup toleran terhadap stress lingkungan (Bino, 1997), di lahan gundul, berlempung, tanah berkadar garam tinggi atau tanah yang tergenang air (Bino, 1997).
Tinggi pohon                                  :Tinggi pohon beringin dapat mencapai hingga 25 m. Tajuk pohon beringin berbentuk bulat dan melebar. Diamater batang pohon beringin dapat mencapai hingga 2 m.
Manfaat                          :Fungsi lain dari tanaman Acacia auriculiformis ini adalah fungsi berupa pemanfaatannya sebagai tumbuhan lahan marginal (kurang subur dan kurang menguntungkan), yakni pada area-area dimana jenis lain sulit untuk tumbuh. Kemampuannya untuk memfiksasi (mengikat) nitrogen sangat membantu dalam merehabilitasi lahan. Dalam hubungannya dengan kayu energi, Acacia auriculiformis dapat digunakan untuk kayu energi secara langsung, bahan industri arang maupun jadi bahan baku pelet. Pertanaman khusus belum banyak dilakukan. Selain untuk arang maupun kayu energi secara langsung, jenis ini juga dimungkinkan digunakan sebagai bahan baku pelet. Permintaan pelet dari biomas kayu untuk tujuan energi sangat menjanjikan untuk pasar Eropa, Amerika dan Korea Selatan.
Musim bunga di Indonesia:Bunga akasia berbentuk bulir bertangkai pendek, panjang bulir 0,2 cm0,5 cm. satu bulir dapat terdiri dari 50-100 bunga yang kecil berwarna kuning. Panjang bulir 10-15 cm. Buah bertipe polong. Dalam satu polong mengandung 2-5 biji. Biji berwarna hitam kecoklatan dan mengkilat (Suryowinoto, 1997). Sebagai pertanaman A. auriculiformis bisa berbunga pada umur 2 tahun. Namun pembuahan pertama yang akan diproduksi belum sempurna, karena tidak banyak individu berbunga yang memungkinkan terjadinya penyerbukan secara optimal untuk membentuk buah. Pada umur 3 tahun baru sekitar 50% dari tanaman yang ada ( Josue 1991) atau jika dari berbagai sumber asal akan mencapai 75% tanaman. Buah akan lebih baik dikumpulkan dari tanaman mulai umur 4-5 tahun, dan keberhasilan terbentuknya biji dipengaruhi oleh tersedianya serangga (terutama lebah) sebagai penyerbuknya. Tanaman yang belum melimpah berbunga dalam suatu tegakan, dimungkinkan belum sempurna menarik kedatangan gerombolan penyerbuk untuk datang karena warna dan bau bunga yang diproduksi secara kolektif.
Musim buah di Indonesia:Tanaman ini bisa memproduksi biji 2 kali pertahun, dengan pembuahan April dan Oktober yang berasal dari pembungaan Januari-Februari dan Juni-Juli, namun hal ini juga tergantung dari lokasi.
Deskripsi singkat:Kayu dari jenis ini termasuk dalam kelas keawetan III (lama) dan kelas kekuatan di antara II dan III (jati kelas kekuatan II). Berat jenisnya yang tinggi (kisaran 0,6-0,75) membuat Acacia auriculiformis cocok dijadikan kayu bakar atau arang yang bermutu tinggi (Sastroamidjojo, 1976). Tanaman ini banyak dijumpai pada kawasan kering seperti savana dan hutan musim. Kemampuannya untuk mengikat nitrogen mampu menyuburkan tanah (Yantasath 1986) dan bisa tumbuh pada tanah-tanah marginal tererosi (Zhigang and Minquan 1987). Bahkan jenis berakar kuat ini rekemondesikan untuk reklamasi area keras yang mengandung banyak besi (Evans dan Turnbull 2004). Pada sebaran alaminya mampu tumbuh didaerah dengan curah hujan yang rendah sampai sedang (760- 1670 mm/tahun) (Booth 1987).
Oleh: Aprilia Rinda A. – Penyuluh Kehutanan Terampil UPT Perbenihan Tanaman Hutan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Chat WA Pelayanan