Lokal : Sawo kecik
Nama Latin : Manilkara kauki
Famili : Sapotaceae
Sebaran   : Penyebaran terluas terutama Asia Tenggara, meliputi Burma, Indochina, Thailand, Semenanjung Malaysia hingga Indonesia (Kecuali Kalimantan), Papua New Guinea, dan Bagian Timur Laut Australia. Di Indonesia, jenis ini tersebar di pesisir Selatan Banyuwangi, Pulau Karimun, Bali, Buton, Sulawesi, Kangean, Pulau We dan Bima.
Persyaratan tumbuh         : Tumbuh di dataran rendah, pesisir pantai hingga perbukitan, pulau-pulau karang, hutan bakau yang berbatasan dengan daratan. Kisaran tumbuh hingga 50 mdpl. Banyak ditemukan di wilayah kering daratan Asia Tenggara dengan jenis tanah regosol liat berpasir.
Tinggi pohon                                   : Tinggi dapat mencapai 25 meter, dengan diameter 100 cm. Tajuk tebal hampir membulat, pada permukaan batang sering dijumpai benjolan, tinggi bebas cabang rendah dan kadangkala membentuk pilar.
Status konservasi                            : Saat ini status eksistensinya masuk dalam kategori Least Concern/LC menurut data IUCN Redlist 2020.
Musim bunga di Indonesia : Pohon Sawo kecik berbunga dan berbuah hampir sepanjang tahun dan bervariasi menurut tempat. Pembungaan di Bali bulan Desember-Februari
Musim buah di Indonesia : Pembuahannya pada bulan Maret-Juni dengan puncak bulan April
Pemanfaatan : Buahnya dapat dimakan. Kayunya digunakan sebagia bahan konstruksi berat (tiang rumah, jembatan, bantalan rel kereta api), lantai rumah, mebel, bahan baku arang dan patung, karena kombinasi antara warna dengan motif kayunya sangat menarik.
Deskripsi singkat : Buah sawo kecik memiliki sejumlah manfaat untuk kesehatan, mulai dapat membantu pembentukan sel darah merah, hingga obat diare. Berbagai kandungan protein, vitamin, karbohidrat, mineral, zat besi, serat, dan lain-lain.