Buah Kepel
Pohon Kepel
Nama Lokal
Filum
Kelas
Ordo
Famili
Genus
: : : : : :Kepel
Magnoliphyta
Magnolipsida
Magnoliales
Annonaceae
Stelechocarpus
Nama Latin:Stelechocarpus burahol
Sebaran  :Penyebaran tumbuhan ini mulai dari kawasan Asia Tenggara sampai ke kawasan Malaysia dan Kepulauan Salomon (Mogea, 2001). Pada saat ini jumlah tumbuhan kepel semakin berkurang. Hal ini disebabkan oleh adanya kepercayaan masyarakat di Jawa Tengah dan Yogyakarta yang mengatakan bahwa tumbuhan ini hanya boleh ditanam di sekitar keraton, sedangkan di Jawa Barat tumbuhan ini jarang ditanam karena daging buahnya hanya sedikit sehingga dianggap kurang menguntungkan.  
Persyaratan tumbuh        :Kepel tumbuh liar pada tanah lembap dan dalam, di hutan-hutan sekunder di Jawa. Dibudidayakan sebagai pohon buah pada ketinggian mencapai 600 m dpl., dan mau berbuah di Queensland. Jenis ini dapat tumbuh baik di sela-sela rumpun bambu, yang di tempat itu pohon-pohon lain tidak mampu bersaing.  
Tinggi pohon                                  :Pohon tegak, tidak merontokkan daun secara serentak, tingginya mencapai 25 m. Tajuknya teratur berbentuk kubah meruncing ke atas (seperti cemara) dengan percabangan mendatar atau agak mendatar. Diameter batang utamanya mencapai 40 cm, berwarna coklat-kelabu tua sampai hitam, yang secara khas tertutup oleh banyak benjolan yang besar-besar. Daunnya berbentuk lonjong-jorong sampai bundar-telur/bentuk lanset, berukuran (12-27)cm × (5-9)cm, berwarna hijau gelap, tidak berbulu, merontal tipis; tangkai daunnya mencapai 1,5 cm panjangnya. Bunganya berkelamin tunggal, mula-mula berwarna hijau kemudian berubah menjadi keputih-putihan, muncul pada tonjolan-tonjolan di batang; bunga jantannya terletak di batang sebelah atas dan di cabang-cabang yang lebih tua, berkumpul sebanyak 8-16 kuntum, diameternya mencapai 1 cm; bunga betinanya hanya berada di pangkal batang, diameternya mencapai 3 cm. Buahnya dengan 1-13 lembar daun buah bertipe mirip buah buni (berrylike ripe carpels), panjang tangkai buahnya mencapai 8 cm; daun buah yang matang hampir bulat bentuknya, berwarna kecoklat-coklatan, diameternya 5–6 cm, perikarpnya berwarna coklat, berisi sari buah, dapat dimakan. Bijinya berbentuk menjorong, berjumlah 4-6 butir, panjangnya sekitar 3 cm, berat segar 62-105 g, serta bagiann yang dapat dimakan sebanyak 49% dan bijinya 27% dari berat buah segar.  
Status konservasi                           :Not extinct
Musim bunga di Indonesia:Buah yang satu ini biasanya muncul sebanyak dua kali dalam setahun. Biasanya mereka bisa ditemui pada bulan Desember hingga Februari dan bulan Juni hingga Juli. Pohon ini mempunyai bunga yang berkelamin tunggal. Ketika masih muda atau baru tumbuh, bunga kepel berwarna kehijauan dan seiring berjalannya waktu akan berubah menjadi keputihan.
Musim buah di Indonesia:Musim buah kepel terjadi sebanyak 2 kali dalam setahun, yaitu pada bulan Desember hingga Februari dan bulan Juni sampai Juli. Saat musim hujan rasa buahnya kurang manis, sedangkan saat musim kemarau rasanya akan lebih manis, meskipun jumlah buahnya lebih sedikit dibandingkan musim hujan.
Pemanfaatan:Tumbuhan ini sangat potensial karena kepel mempunyai senyawa-senyawa  bioaktif diantaranya flavonoid dan polifenol serta kandungan Vitamin C dalam buah kepel sangat tinggi yang potensial sebagai deodoran oral, selain itu daun kepel juga potensial sebagai antioksidan karena terkandung senyawa antioksidan dalam flavonoid yang ada di dalam daun kepel. Sunarni dkk, (2007)  menyatakan bahwa identifikasi fraksi etanol infusa daun kepel memiliki kandungan flavonoid dengan  aktivitas  antioksidan yang kuat. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Warningsih (1995) buah kepel mengandung senyawa alkaloid dan polifenol serta memiliki fungsi sebagai antiimplamantasi.
Deskripsi singkat
Referensi








:               
Tumbuhan kepel atau burahol (Stelechocarpus burahol) adalah pohon penghasil buah hidangan meja yang menjadi flora identitas Daerah Istimewa Yogyakarta. Buah kepel digemari puteri kraton-kraton di Jawa karena dipercaya menyebabkan keringat beraroma wangi dan membuat air seni tidak berbau tajam. Keanekaragaman Hayati DI Yogyakarta. 12 April 2017. Diakses tanggal 11 Juli 2020. trade winds fruit. Diakses tanggal 11 Juli 2020. https://id.wikipedia.org/wiki/Kepel https://www.orami.co.id/magazine/buah-kepel https://www.krjogja.com/berita-lokal/read/269596/buah-kepel-perlancar-buang-air-kecil