Nama Lokal: Akasia Auri
Nama Latin: Acacia auriculiformis
Kingdom
Divisi
Sub Divisi
Kelas
Ordo
Famili
Sub Famili
Genus
Spesies
Nama local
:
: : : : : : : :  :
Plantae
Spermatophyta
Angiospermae  
Manoliopsida
Fabales
Fabaceae
Mimosoideae
Akasia
Acacia Auriculiformis
Akasia, Akor
Origin (Asal)                                  :Berasal asli dari Indonesia di bagian selatan Papua, serta sebarannya juga terdapat di Papua New Guinea dan bagian utara. Di Indonesia, pemuliaannya telah dilakukan sejak 1996 dengan penanaman uji keturunan generasi 1, dengan menyertakan berbagai sumber benih yang dikoleksi dari 12 asal benih (provenans) di sebaran alaminya di Papua New Guinea dan Queensland, Australia.
Sebaran:Distribusi alaminya dapat dijumpai di Papua, Sabana Papua Nugini, Australia utara dan pulau-pulau di selat Toress, di antara 9 o LU-16o LS dan 130-145o BT (Hai, 2009).
Perkembangbiakan dan Perlakuan Benih:Perkembangbiakan dapat dilakukan secara generatif (biji). Ekstraksi benih dilakukan dengan cara dijemur/dikeringkan selama satu hari. Benih dikemas dalam wadah plastik kedap udara kemudian dimasukkan ke dalam kaleng Benih disimpan dalam ruang suhu kamar atau ruang ber AC.
Persyaratan tumbuh        :Akasia cocok tumbuh di ketinggian 0 sampai 400 meter di atas permukaan laut, pada suhu hangat dengan curah hujan sangat rendah hingga 200 mm/tahun sampai tinggi, dan bisa tumbuh pada kondisi tanah dengan kisaran pH 4-9. (Pinyopusarerk, 1990). Akasia dapat tumbuh dengan baik pada kondisi tanah yang rusak, dengan kemampuannya memfiksasi nitrogen bebas. Akasia juga cukup toleran terhadap stress lingkungan (Bino, 1997), di lahan gundul, berlempung, tanah berkadar garam tinggi atau tanah yang tergenang air (Bino, 1997).
Bunga:Bunga akasia berbentuk bulir bertangkai pendek, panjang bulir 0,2 cm0,5 cm. satu bulir dapat terdiri dari 50-100 bunga yang kecil berwarna kuning. Panjang bulir 10-15 cm.
Daun:Memiliki dedaunan lebat dengan mahkota terbuka dan menyebar. Daun memiliki panjang 10–16 sentimeter dan lebar 1,5–2,5 sentimeter  dengan 3–8 saraf paralel, tebal, kasar dan melengkung.
Biji:Berbentuk polong berukuran sekitar 6,5 kali, datar, tulang rawan, mengkilap, berurat melintang dengan tepi bergelombang. Awalnya lurus tetapi saat dewasa menjadi bengkok dengan spiral tidak beraturan. Biji diletakkan secara melintang di dalam polong, bulat telur hingga elips.
Akar:Perakaran akasia yang dangkal, padat dan Sistem akar yang menyebar dan kusut berfungsi menstabilkan lahan yang terkikis. membuat akasia cocok sebagai tanaman konservasi, yaitu untuk pengendalian erosi
Batang:Tumbuh setinggi 15–30 meter, dengan batang setinggi 12 meter dan diameter 50 sentimeter, Batangnya bengkok dan kulit kayunya retak secara vertikal. Akarnya dangkal dan menyebar.
Musim buah di Indonesia:Tanaman ini bisa memproduksi biji 2 kali pertahun, dengan pembuahan April dan Oktober yang berasal dari pembungaan Januari-Februari dan Juni-Juli, namun hal ini juga tergantung dari lokasi.
Kegunaan:Sebagai tanaman hias, parfum alami, dan daunnya dapat digunakan untuk menstabilkan kadar gula darah.
Pustaka:https://en.wikipedia.org/wiki/Acacia_auriculiformis
https://kehati.jogjaprov.go.id/detailpost/acacia-auriculiformis