Oleh: Yunita Wulansari K – Penyuluh Kehutanan Ahli Madya di UPT Perbenihan Tanaman Hutan Prov. Jatim

biomassa kayu energi

Manfaat utama dari hutan tanaman energi adalah sebagai sumber energi alternatif yang ramah lingkungan dan dapat diperbaharui.  Penggunaan biomassa dan biofuel dari hutan tanaman energi dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang tidak terbarukan dan mengurangi emisi gas rumah kaca yang merusak lingkungan.

Selain itu hutan tanaman energi juga memiliki manfaat ekonomi yang signifikan.  Hutan ini dapat menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat sekitar, terutama bagi mereka yang terlibat dalam pengelolaan dan pemanenan pohon.  Bagi kepentingan industri, keberadaan hutan tanaman energi dapat membantu mengurangi biaya impor bahan bakar fosil.

Saat ini minat masyarakat untuk pengembangan tanaman biomassa menjadi hutan tanaman energi masih sangat rendah.  Penyebab utamanya adalah karena fokus utama masyarakat dalam menanam tanaman kehutanan masih untuk diambil kayunya, dan kayu tanaman biomassa nilainya tidak sebesar tanaman kayu lain seperti sengon dan jati.  Meskipun kedua jenis kayu ini masuk kategori kayu dengan nilar kalor yang tinggi, namun umur panen yang masuk kategori panjang menjadi permasalahan sendiri untuk bisa dikembangkan menjadi kayu energi ( 5-20 tahun).

Melihat potensi yang ada, UPT Perbenihan Tanaman Hutan bekerja sama dengan Tim Peneliti Tanaman dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Yogyakarta  serta PT Sumber Sari Petung Kediri, bersama-sama membangun rintisan hutan tanaman energi yang berlokasi di lahan milik PT Sumber Sari Petung (PT SSP) di Kabupaten Kediri.

Rintisan Hutan tanaman energi ini nantinya akan terdiri atas petak khusus untuk sumber benih dan petak untuk produksi.  Kemitraan dengan PT SSP ini dibangun atas dasar keinginan PT SSP untuk mengurangi biaya produksi melalui konversi ke energi terbarukan.  Melalui percontohan di PT SSP diharapkan sektor kehutanan dapat lebih memperkenalkan  peluang pengembangan tanaman biomassa khususnya di hutan rakyat, sebagai alternatif sengon dan jati.

Ada 3 (tiga) jenis tanaman yang akan dikembangkan di areal PT SSP ini adalah : kaliandra merah, akasia auri dan lamtoro gung.  Keunggulan dari ketiga jenis tanaman ini antara lain ; berumur pendek (siap panen pada usia 3 tahun), yang diambil cukup ranting-rantingnya tanpa perlu menebang pohon, bisa dikembangbiakan dengan anakan pohon, daun bisa dijadikan pakan ternak, bawah tegakan bisa dimanfaatkan untuk tanaman berumur pendek dan bisa menyuburkan tanah, karena ketiga jenis tanaman diatas akarnya dapat mengikat nitrogen serta bisa dikembangkan menjadi pupuk hijau.  Benih untuk ketiga jenis tanaman ini berasal dari hasil eksplorasi benih yang dilakukan oleh peneliti  utama BRIN (Dr. Ir. Rina Laksmi H, MP).

Kaliandra merah (Calliandra calorthyrsus), Siapa sangka tanaman sejuta manfaat ini juga bisa menjadi bahan pembangkit tenaga listrik. Adalah Kaliandra, atau cabello de angel (rambut malaikat) yang berasal dari Guatemala. Si kaliandra ini bisa diolah menjadi sumber energi baru terbarukan (EBT). Sumber olahan palet dari kayu kaliandra digadang bisa menjadi bahan EBT biomassa pembangkit listrik hingga 10 MegaWatt.

Kaliandra merah merupakan tanaman semak yang mudah tumbuh, baik saat musim hujan atau kemarau.  Akar rhizobium dan jamur micoriza di akar kaliandra juga mampu mengurangi pertumbuhan gulma, dan menyuburkan tanah.  Daunnya bisa digunakan untuk pakan ternak, dan bunganya adalah sumber nektar bagi lebah madu.

Tinggi kaliandra bisa mencapai 12 m, dengan diameter 20 cm.  Batang basah kaliandra mampu menghasilkan energi panas sebesar 4.600 kkal/kg, sedangkan saat kering kalor panasnya setara dengan batubara, yaitu sekitar 5.000-7.000 kkal/kg.

Pelet kayu dianggap lebih ramah lingkungan daripada batubara. Wood pellet atau pelet kayu dari Kaliandra dianggap carbon neutral. Daripada bahan bakar gas (BBG), emisi CO2 yang dihasilkan pelet kayu 8 kali lebih rendah. Sedang dibandingkan bahan bakar minyak (BBM), emisi CO2 pelet kayu 10 kali lebih rendah. Sehingga tak heran, tren pelet kayu sebagai EBT biomassa menjadi alternatif energi. (https://www.kompasiana.com/girilu/5b3dc8985e1373602321bab2/kaliandra-merah-tanaman-pembangkit-tenaga-listrik).

Akasia (Acacia auriculiformis)

Akasia bisa tumbuh hingga 15-30 m, dengan diameter mencapai 50 cm.  Kayu dari tanaman ini sering dipakai sebagai kayu bakar oleh masyarakat, karena memiliki kandungan energi yang cukup tinggi, yaitu 4.500 – 4.900 kkal/kg.  Arang kayu dari tanaman ini memiliki nyala api yang bagus dengan asap sedikit.

Batang pohon ini sering digunakan sebagai bahan baku kertas, dan  pada akar tanaman akasia terdapat rhizobium dan bradyrhizobium, sehingga dapat menyuburkan tanah dengan kemampuannya mengikat nitrogen.  Tanaman ini juga bagus digunakan sebagai tanaman penghijauan, karena kemampuannya dalam mencegah erosi. Untuk reklamasi lahan dan memperbaiki struktur tanah.

(https://en.wikipedia.org/wiki/Acacia_auriculiformis).

Lamtoro gung (Leucaena leucocephala), dikenal juga dengan nama petai cina atau kemlandingan, merupakan tanaman sejenis perdu dari famili leguminosae/polong-polongan.  Kerap digunakan dalam penghijauan lahan atau pencegahan erosi.  Dengan kandungan energi yang dimilikinya, kayu lamtoro sering digunakan sebagai bahan bakar.  Seperti 2 (dua) jenis pohon sebelumnya, pohon lamtoro masuk kategori fast growing trees yang bisa tumbuh tinggi (13-18 m) dan siap dipanen dalam jangka waktu + 3-5 tahun.

Akar dan ranting tanaman ini sangat kuat, sehingga mampu menahan terjangan angin ribut.  Daunnya juga sering digunakan untuk pupuk hijau.  Bisa digunakan sebagai sekat api, dan bagus untuk digunakan sebagai pohon inang dari beberapa jenis tanaman produktif menjalar seperti lada, vanili, markisa dan gadung.

Perakaran lamtoro memiliki nodul-nodul akar yang dapat mengikat nitrogen, sehingga mampu menyuburkan tanah.  Lamtoro sangat disukai sebagai penghasil kayu api, karena memiliki nilai kalori sebesar 4.302-4.780 kkal/kg.

(https://id.wikipedia.org/wiki/Lamtoro)

EBT (Energi Baru Terbarukan) menjadi isu global pada Pertemuan Paris-UNFCC tahun 2015 di New York. Ada 178 negara anggota yang berinisiasi mencegah pemanasan global. Target dari pertemuan ini adalah kesepakatan untuk menghambat pemanasan global dibawah 2o -3o C, yaitu 1.5o C. Dengan pencanangan EBT, negara berkembang dapat mencegah emisi sebanyak 1,4 gigaton pada 2020. Program yang dibuat pun menganggarkan sekitar 25 miliar USD per-tahun.

Di Indonesia sendiri, EBT sudah dicanangkan pemerintah dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN).

Potensi EBT di Indonesia secara keseluruhan mampu menghasilkan 144 gigaWatt. Walau kini target yang tercapai baru sebesar 2% atau 8,89 gigaWatt. Ada beberapa proyek EBT yang sudah dikembangkan di Indonesia, antara lain : proyek EBT angin seperti PLTB di Tolo Janeponto Sulsel , Instalasi biogas komunal di Pasuruan, Jatim. PLTBm (biomassa) yang menghasilkan 10 MegaWatt juga sudah diresmikan di Mempawah, Kalbar.

PT Energy Management Indonesia (EMI, Persero) adalah anak perusahaan PT PLN yang berfokus pada pengembangan EBT, pada Tahun 2015 telah melakukan investasi sebesar 40 miliar Rupiah. Investasi ini guna pembangunan pembangkit pabrik pelet kayu biomassa di Purworejo, Jateng. Bersama PT Energi Biomassa Indonesia dan CV Surya Baja Engineering, pabrik ini dapat memproduksi 100 ton palet kalindra dan glirisidia per hari dan dapat menghasilkan listrik 5 MegaWatt.  Rencananya, listrik yang dihasilkan akan juga dialirkan ke bandara baru di Kulon Progo, Yogyakarta.

Selain itu, pada tanggal 1 Maret 2022, Perum Perhutani juga telah menandatangani MOU dengan PT PLN (Persero) dan PT Sang Hyang Seri untuk pemenuhan kebutuhan biomassa dalam mendukung program EBT PLTU milik PLN dengan target tahunan mencapai 10 juta ton biomassa dalam 5-7 tahun ke depan (https://www.liputan6.com/bisnis/read/4900493/3-bumn-keroyokan-kejar-target-bauran-ebt-lewat-co-firing-pltu).

Meskipun masih membutuhkan waktu, namun potensi hutan tanaman energi di Jawa Timur sangat besar, dan mampu menjadi lahan ekonomi jangka pendek, menengah dan jangka panjang bagi masyarakat.  Adalah tugas kita bersama untuk mensosialisasikan manfaat dan potensi yang dimiliki oleh tanaman kayu energi ini.

Terima kasih dan salam JOS3!!!

MASA DEPAN HUTAN TANAMAN ENERGI DI JAWA TIMUR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *