“Pak .. ada bibit tanaman buah?” tanya seorang warga,

“Oh.. tanaman buah apa ya Bu?” petugas persemaian balik bertanya,

“Tanaman buah apa aja pak…. Ini lho untuk mengisi pekarangan rumah saya yang masih kosong”, jawab warga tersebut penuh harap.

Dialog ini biasa terjadi saat musim tanam yang ditandai dengan datangnya musim hujan. Saat dimana persemaian-persemaian tanaman bersiap untuk menyalurkan bibit yang diproduksinya kepada masyarakat.

Dialog diatas juga mencerminkan animo atau antusiasme masyarakat dalam menanam dan jenis tanaman apa yang mereka sukai.

Telah sejak lama masyarakat menyukai tanaman buah atau kalau istilah dalam kehutanan termasuk jenis tanaman MPTS. Singkatan dari Multi Purpose Trees Species yang artinya jenis pohon yang selain menghasilkan kayu juga bisa dimanfaatkan buah, kulit, daun, akar dan sebagainya tergantung dari jenisnya.

Persemaian tanaman khususnya yang dimiliki oleh instansi pemerintah memiliki fungsi memproduksi bibit tanaman untuk memenuhi kebutuhan atau permintaan masyarakat. Tentu harus menyesuaikan dengan animo masyarakat. Jangan sampai kaku dalam arti hanya memproduksi jenis-jenis yang sebenarnya kurang disukai masyarakat. Karena sasaran utamanya adalah bagaimana menjaga agar minat masyarakat untuk menanam tetap tinggi. Salah satu strateginya adalah memproduksi jenis-jenis tanaman yang sedang tred atau disukai masyarakat sambil tetap kita meng-edukasi dengan jenis-jenis lain yang menjadi core instansi kehutanan yaitu bibit jenis tanaman kayu-kayuan.

Persemaian UPT Perbenihan Tanaman Hutan yang berada di desa Kemiri Kecamatan Sidoarjo Kabupaten Sidoarjo saat ini terus berkembang. Baik sarana prasarananya maupun jenis bibit yang diproduksi. Terhadap kecenderungan minat masyarakat terhadap tanaman buah, pada tahun 2021 ini kita telah merencanakan produksi tanaman buah jenis Alpokat dan Matoa. Saat tulisan ini ditayangkan kedua jenis tanaman ini telah selesai diproduksi dan memasuki masa pemeliharaan sampai siap salur pada musim penghujan di akhir tahun 2021.

Untuk jenis alpokat, persemaian UPT PTH memproduksi alpokat dari varietas Kendil dengan sistem sambung/grafting alias bibit vegetatif. Selanjutnya kita sebut saja bibit alpokat sambung. Menarik bukan….!

Karena bibit alpokat sambung nantinya akan lebih cepat menghasilkan buah daripada bibit dari biji. Kalau dari biji kita harus menunggu setidaknya sampai umur 6 tahun, itu pun kalau berbuah. Sementara jika menanam bibit sambungan atau okulasi mulai umur 3 tahun sudah berbuah.

Apa pasal ? ya sebab bahan sambungnya atau disebut dengan entres harus berasal dari pohon alpokat yang sudah pernah berbuah. Kelebihan lainnya alpokat yang dihasilkan akan sama dengan pohon induknya jika induknya memiliki sifat unggul maka keturunan vegetatifnya akan sama memiliki sifat unggul.

Makanya.. jangan sampai ketinggalan info di saluran informasi UPT PTH sebelum kehabisan.

“Ah.. jangan-jangan alpokatnya jenis yang kecil-kecil buahnya”, kata netizen agak ragu.

Eits.. tunggu dulu persemaian kita hanya memproduksi bibit unggul lho ya.. catet. Ya..yang kita produksi memang alpokat unggul dari varietas kendil. Kenapa kita pilih kendil bukan yang lain, ini dia alasannya :

  1. Buahnya berukuran jumbo… se-gede kendil. Beratnya rata-rata mencapai 1,7 kg/buah bahkan ada sampai 2 kg/buah. Dijamin kenyang makan ini alpokat;
  2. Cita rasanya manis gurih lezat bak mentega dengan daging buah yang kuning tebal dan pulen tak berserat;
  3. Anti ulat. Daun pohon alpokat jenis kendil tidak disukai ulat sehingga cocok ditanam sebagai tabulampot di halam rumah. Selain itu kulit buahnya cukup keras dan tebal ikut menambah keengganan ulat untuk menyantapnya.
  4. Adaptif terhadap berbagai level ketinggian tempat tumbuh. Bisa tumbuh baik pada dataran rendah sampai tinggi, ketinggian 200 – 1.500 m dpl.
  5. Bersifat genjah alias sifat cepat berbuah. Bila bibit dari biji saja umur 6 tahun sudah belajar berbuah apalagi bibit sambung/okulasi 3 tahun sudah mulai berbuah. Ga pake lama dah.
  6. Berbuah sepanjang tahun. Alpokat ini ga mengenal musim. Dalam satu tahun bisa berbuah 2-3 kali.
  7. Produktifitas tinggi. Bayangkan sudah ukurannya gede, sekali berbuah banyak banget. Satu pohon bisa menghasilkan 150 kg dalam sekali panen. Waktu panen alpokat kendil biasanya pada bulan Desember-Januari-Pebruari dan bulan Juni-Juli

Nah…sobat benih gimana, tertarik ga? Silahkan menabung niat dan siapkan konsep surat permohonan bibit untuk diajukan pada saatnya nanti. Kapan.. ya tunggu kabar dan pantau terus media informasi UPT Perbenihan Tanaman Hutan Jawa Timur. Ada website, facebook, instagram, youtube juga ada.

Okey sobat benih, terimakasih sudah membaca tulisan ini. Semoga bermanfaat.  Salam sehat.

Benih yang baik akan tumbuh pohon, udara, air dan kehidupan yang baik”

[ditulis oleh : Indra Wardhana, S.Hut /PEH Muda UPT PTH]

Bibit Alpukat
HOREE … ADA BIBIT ALPOKAT UNGGUL DI PERSEMAIAN UPT PTH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *